Sabtu, 28 Juli 2012

Jangan Kufur Nikmat, Teman….


Jangan Kufur Nikmat, Teman….

Coba kita renungi diri kita. Siapakah yang telah menciptakan kedua mata kita? Kedua telinga kita? Mulut kita? Kaki dan tangan kita? Allah bukan? Mengapakah kita tidak mau bersyukur?
Sekedar untuk membeli frame dan lensa saja bisa habis jutaan rupiah. Mata kita tentu nilainya jauh di atas itu. Mengapa kita tidak bersyukur?
Saat orang sakit jantung, dia bisa menghabiskan ratusan juta rupiah untuk mengobatinya. Bukankah kita seharusnya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan jantung kepada kita secara Cuma-Cuma?
Jika kita amati orang tua kita, anak-anak kita, istri kita, semua itu Allah yang menciptakan.
Begitu pula dengan bumi dan langit beserta seluruh isinya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nahl 18]
Bersyukur (berterima kasih), kepada sesama manusia lebih cenderung kepada menunjukkan perasaan senang menghargai. Adapun bersyukur kepada Allah lebih cenderung kepada pengakuan bahwa semua kenikmatan adalah pemberian dari Allah. Inilah yang disebut sebagai syukur. Lawan kata dari syukur nikmat adalah kufur nikmat, yaitu mengingkari bahwa kenikmatan bukan diberikan oleh Allah. Kufur nikmat berpotensi merusak keimanan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy Syura: 23)
Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah: “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531)
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Allah itu Syakur lagi Haliim” (QS. At Taghabun: 17)
Ibnu Katsir menafsirkan Syakur dalam ayat ini: “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 8/141)
Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.

Kenapa Kita jadi Kurang Bersyukur



Kenapa Kita jadi Kurang Bersyukur


Sobat Sekolnet (Sekolah Internet), pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita adalah mengapa kita menjadi orang yang kurang bersyukur? mengapa pertanyaan ini penting buat kita? agar lintasan yang kita lewati tidak terlalu jauh dari kelalaian dan keterlenaan. Hidup ini perlu menyisakan waktu untuk merenung dan mengukur langkah yang sudah kita lewati, agar kita tidak terjebak pada ilusi semu. Kelelahan kita selama ini sering berbuah keluhan dan penyesalan. Cobalah sejenak duduk merenung melihat dua gambar yang ada ini, dua sosok yang sangat kontras dari kebanyakan orang dalam hingar bingar fikiran kita.
Sobat Sekolnet (Sekolah Internet), 2 orang ini setidaknya dihadirkan ke muka bumi ini tanpa sia-sia. Ia menjadi sumber energi bagi siapapun yang dalam keadaan malas, tidak bersemangat, bahkan putus asa. Begitu juga keduanya menjadi telaga di tengah dahaga yang melanda di padang pasir kehidupan fana ini. Hidup adalah saling memberi, saling berbagi, saling mengkoreksi, saling mencintai dan saling menasehati. Nasehat terbaik adalah lihatlah kehidupan ini dengan hati, jangan terus melihat ke atas terus menerus, agar kita tidak lupa dimana kita berpijak, tapi juga jangan terus-menerus melihat ke bawah, agar kita tidak menunda prestasi yang akan kita torehkan selama kehidupan ini berlangsung di muka bumi ini.
Karenanya langkah yang harus kita jalankan adalan mensyukuri nikmat yang telah di anugerahkan, bersyukur bukan sekedar ucapan, tetapi ia adalah sebuah manifestasi nikmat secara maksimal untuk kemashlahatan kehidupan. Kita sering merasa bersyukur dalam kehidupan ini disebabkan :

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki.
Tanpa kita sadari penyakit ini menjangkiti seluruh aktifitas kita. Katakanlah kita telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Kita masih saja melakukan hal-hal yang berlebihan dalam mengusahakan sesuatu, dan sering muncul di perasaan kita bahwa yang orang lain miliki lebih hebat dan lebih baik. Tentu saja semangat ini tidak semuanya buruk, kalau menjadi energi semangat dengan cara-cara yang baik. Yang menjadi persoalan kemudian kita mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan berlaku tidak adil kepada diri kita. Karenanya kayakanlah diri dengan apa yang saat ini ada di hadapan kita, dan ia menjadi modal untuk kita meningkatkannya dengan cara-cara yang lebih baik dan memberikan kemanfaatan. Yang sering muncul adalah penyakit dalam diri kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”.
Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Kalaupun harta itu habis, karena sebuah musibah, maka orang yang kaya adalah orang yang tetap kaya dalam keadaan miskin atau bersyukur. Bersyukur dalam arti ia akan berusaha kaya dengan apa yang ada saat ini pada dirinya,
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan yang tidak menentramkan hati. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yg sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling kita, pikirkan yang kita miliki, dan syukurilah. Kita akan merasakan nikmatnya hidup, karenanya belajarlah dari keadaan orang lain yang kekurangan secara fisik, ia mampu memaknai kehidupan dengan memperbanyak bersyukur dan menghiasi diri dengan prestasi.
Pusatkanlah perhatian pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar kita. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan, dan dapat memberikan semangat baru dalam kehidupan. Kadangkala kita merasa memiliki kalau sesuatu itu sudah pergi atau hilang dari hadapan kita.
Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung.
Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Ada sebuah kisah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia.
Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab,
”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang.”Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Bersyukurlah!
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar …
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit …
Di masa itulah kamu tumbuh …
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu …
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang …
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru …
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu …
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat …
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga …
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih …
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan …
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik …
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut …
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif …
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu
Tuhan mengingatkan kita, dengan cara berbeda, orang lain yang kekurangan fisik menjadi pengingat buat kita. Bahwa keadilan itu harus dipandang secara holistik.
Info Lebih Banyak di http://www.sekolnet.com/